IBSN : Smiling….

Just smile like this... its so easy...

Just smile like this... it's so easy...

Kemarin (29/10/08), Ane dapet kiriman file dari temen chat ane, eka namanya, manis anaknya, beneran, cuma sayang, udah punya cowok, eh, denger denger….hus hus…malah ngegosip…kacau nih si Odie…maaf ya eka…hehehehe….oke, Lanjjjuttt…

kiriman filenya berupa file MS Word, yang ane paste ke posting ini…berikut isi file kiriman ini, yang merupakan kisah tentang “berharganya sebuah senyuman…🙂

———————————————————–

[Forum Pembaca KOMPAS] Smiling (kisah hikmah)
Tanggal: Kamis, 9 Oktober, 2008, 4:30 PM

(dikutip dr milis Student-emba) :

Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni Jerman,
atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana . Demikian
layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.

Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah
saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen
sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang
memilikinya.

Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama “Smiling.”
Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada
tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka.
Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya
adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada
setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.

Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak
bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi kerestoran
McDonald’s yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin
dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan
meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk
yang masih kosong.

Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap
orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula
antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.

Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat
mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui
suatu “bau badan kotor” yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang
saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan
tidak mampu bergerak sama sekali.

Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih
pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang “tersenyum”
kearah saya.
Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih
sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima
‘kehadirannya’ ditempat itu.

Ia menyapa “Good day!” sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung
beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan.
Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya
‘tugas’ yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan
tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Saya segera
menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki
dengan mata biru itu adalah “penolong”nya. Saya merasa sangat prihatin
setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya
bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter.

Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya
pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki
bermata biru segera memesan “Kopi saja, satu cangkir Nona.” Ternyata dari
koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah
menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan
menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua
orang ini hanya ingin menghangatkan badan.

Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku
beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat
duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang
mengamati mereka. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat
itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti
juga melihat semua ‘tindakan’ saya.

Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga
kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta
diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah.

Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di
counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk
suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan
melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk
beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan
meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata
biru itu, sambil saya berucap “makanan ini telah saya pesan untuk kalian
berdua.”

Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah
ber-kaca2 dan dia hanya mampu berkata “Terima kasih banyak, nyonya.”
Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata
“Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada
di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk
menyampaikan makanan ini kepada kalian.”

Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk
lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua
lelaki itu.

Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan
mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat
duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya
sambil tersenyum dan berkata “Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan
dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan ‘keteduhan’ bagi diriku
dan anak-2ku! ” Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu
kami benar2 bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena ‘bisikanNYA’ lah kami
telah mampu memanfaatkan ‘kesempatan’ untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang
lain yang sedang sangat membutuhkan.

Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan
meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu
persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin ‘berjabat tangan’ dengan
kami.

Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap
“Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang
berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan
lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami.”

Saya hanya bisa berucap “terimakasih” sambil tersenyum. Sebelum beranjak
meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu,
dan seolah ada ‘magnit’ yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung
menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya kearah
kami. Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya
lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 ‘tindakan’ yang
tidak pernah terpikir oleh saya. Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya
betapa ‘kasih sayang’ Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali!

Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan ‘cerita’ ini
ditangan saya. Saya menyerahkan ‘paper’ saya kepada dosen saya. Dan keesokan
harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas,
ia melihat kepada saya dan berkata, “Bolehkah saya membagikan ceritamu ini
kepada yang lain?” dengan senang hati saya mengiyakan. Ketika akan memulai
kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia
mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen,
dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang
dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang
kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu
berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya
diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.

Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya
dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya .

“Tersenyumlah dengan ‘HATImu’, dan kau akan mengetahui betapa ‘dahsyat’
dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu.”

Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah ‘menggunakan’ diri saya untuk menyentuh
orang-orang yang ada di McDonald’s, suamiku, anakku, guruku, dan setiap
siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya
lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku
kuliah manapun, yaitu: “PENERIMAAN TANPA SYARAT.”

Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh
para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai
cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara MENCINTAI
SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI, dan
bukannya MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN
SESAMA!

Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan
cerita ini kepada orang2 terdekat anda. Disini ada ‘malaikat’ yang akan
menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan tergerak
hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama yang sedang
membutuhkan uluran tangannya!

Orang bijak mengatakan: Banyak orang yang datang dan pergi dari
kehidupanmu, tetapi hanya ‘sahabat yang bijak’ yang akan meninggalkan JEJAK
di dalam hatimu.
Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk
berinteraksi dengan orang lain, gunakan HATImu! Orang yang kehilangan uang,
akan kehilangan banyak, orang yang kehilangan teman, akan kehilangan lebih
banyak! Tapi orang yang kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya!
Tuhan menjamin akan memberikan kepada setiap hewan makanan bagi mereka,
tetapi DIA tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka, hewan itu
tetap harus BERIKHTIAR untuk bisa mendapatkannya.

Orang-orang muda yang ‘cantik’ adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang
tua yang ‘cantik’ adalah hasil karya seni. Belajarlah dari PENGALAMAN
MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa mendapatkan
semua itu dari pengalaman dirimu sendiri
—————————————————————

udah baca? kalo belom, baca lagi yah (ane yakin, beberapa dari ente ente yang baca dengan serius akan merasakan sesuatu yang mengalir dari punggung, menuju kekepala, menjalar ke permukaan tangan, dan akan merasakan air mata sedikit terdorong untuk membasahi mata anda…hehehehe…) Nah, dari kisah ini ane bisa simpulkan, bahwa senyum itu, walau kadang kita anggap sebagai pengindah wajah, namun kadang memiliki arti lain di hati seseorang, yang kadang bisa bikin orang yang memandang kita tersenyum merasakan kehangatan, keramahan…

okay, jus’t keep smile…itu yang biasa ane pesan untuk temen temen ane yang kadang dapet masalah…yang kadang curhat ke ane, dan ane gak tau mesti kasi saran apa…yupz, Jus’t Keep Smile…🙂 Senyum kan Ibadah….

Coba Alirkan Sedikit Kreativitas…

22 Responses to “IBSN : Smiling….”

  1. gbaiquni Says:

    🙂 smile🙂

    Odie say : Good good…😀

  2. Aping Says:

    Sungguh mulia hati wanita itu…
    aku jadi tersentuh…

    Odie say : sama, tersentuh same ujung kaki….

  3. agunk agriza Says:

    so sweet🙂

    Odie say : Very sweet…

  4. cantigi™ Says:

    sangat inspiratif. makasih odie, udah mau berbagi cerita ini. such as IBSN, lets make our lifes more meaningful by sharing, without condition. like this blog. salut!

    Odie say : makasih Om!!!😀 will always Share!!!

  5. dendy Says:

    Hiks..hiks..hiks..
    Gak tau mau komen apa.
    Just keep smile..

    Odie say : tepat!! just keep smile for every body!!!

  6. Agung Mojosari Says:

    Tersenyumlah dan Dunia pun akan tersenyum kepada kita…

    Thanks for sharing🙂

    Odie say : sama sama om, berterima kasih sama mbak Eka ajah, yang kirim file ke ane…

  7. Panda Says:

    🙂 , manis gag ?

    Odie say : cukuup…wakakak

  8. bunda Says:

    yang ini udah bikin, tersenyum…..sekaligus menangis…
    thx,od..

    Odie say : maknanya bundaaa, maknanyaaaa…wakakaka

  9. denokdebloeng Says:

    eh die..ternyata si eka tuh ya..anaknya..gimana ya..jadi gak enak nih ngomongnya..ternyata dia tuh..aduh gimana ya ngomongnya, takutnya fitnah..jadi gini..ternyata si eka tuh..orang nya…ramah dan suka senyum…
    hihi..ngegosip mmg menyenangakan ya..🙂

    Odie say : hadoh, eka yang mana nih? bukan eka yang itu nok, eak yang ini niii..yang itu tuuuu, ituuu…wakakakakakakak

  10. Dalila Sadida Says:

    aku akan tersenyum jika ditimpuk uang (mataduitan.com) *joke* great story pal…. keep sharing

    Odie say : “timpuk dida pake karung isi semen” enak gak da???
    “Sadis Mode On”

  11. achoey Says:

    Benar jika senyum adalah sedekah
    Buktinya, dengan senyum kita bisa berbagi kehangatan dengan sesama.🙂

    Odie say : Betol betol betol…..

  12. Radhea Permata Dewi Says:

    Great story!!

    Senyum memang penghangat hati di kala sedih,penebar kebahagiaan yang termudah dan terindah.

    Senyum juga penghilang stress termurah!

    Klop bgt!

    Just keep smile,hati kita tentram selalu…

    Odie say : yup, jus’t keep SMILE…..😀

  13. Tuyi Says:

    Die, lo dah nikah lom,….. ada tips oke buat kamu…😦

    Odie say : apaan mas nanya nanya??ane lom punya calon nih, mas tuyi mau jadi calon ane???hah????wakakakakak UEDAN OPO????

  14. cahayadihati Says:

    🙂 🙂 🙂 🙂
    Senyum memang selalu membekas di hati…
    Dan marilah kita tidak pernah menahan diri untuk berbuat baik kepada semua orang yang berhak menerimanya.🙂 🙂 🙂 🙂

    Odie say : mari senyum…(tapi jangan senyum senyum sendiri yaaa….)

  15. eka Says:

    Hehehe…odie nie ya,,paling bisa bwt gosip…malu lah…hehe…thx ya die…dah mau muat cerita eka…n ternyata,,,banyak yang suka…thx ya…keep smile..😉 always…

    Odie say : Eh, temen temen….eka yang digosipin nih..wakakakaka….

  16. chic Says:

    sumpah mata saya berkaca-kaca membaca cerita ini…😦

    Odie say : Wah mbak, ane juga sebenernya mau berkaca kaca baca ceritanya…cuma, mbak tau sendiri kaaan, Odie pantang nangiiissss… :p

  17. sarahtidaksendiri Says:

    wagh, sungguh sangat luar biasa… asal memberi dengan hati yang tulus dan ikhlas, insya Allah, Qta telah memberi yang terbaik bagi diri Qta dan orang lain. Semua memang ada hikmahnya…🙂

    Odie say : yup, bener tuh sarahtidaksendiri (wadoh, panjang nya…)

  18. Myryani Says:

    bener2 nech cerita buat my memandang senyum menjadi berbeda….

    Odie say : tersenyum tuh membawa sejuta makna bagi semua…😀

  19. Bootlego Says:

    tersenyumlah dengan hati mu😉 ikhlas luar dalam…

  20. Barried Says:

    Biasa aja ah *berhati kebal*

  21. INDAH REPHI Says:

    aku suka senyuuum sama siapa aja…tapi sayangnya aku jd sering di underestimated sm orang, gara2 keramahan dan huuuhuuuhuu… katanya aku masih anak2..padahal kn aku udah tante2😦

  22. AL Says:

    Benar-benar bang…senyum itu Ibadah Lo!!!!
    “Keep Smile”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: